Suara Tunggal Bahana (STB) - Kisah berkah atau barokah menjadi pengrajin rebana sengaja dipublikasikan dalam rangka evaluasi dan dan sharing, dengan harapan suatu saat akan bisa diambil hikmahnya oleh kami sekeluarga. Tentunya kami juga merasa bersyukur jika pembaca yang menemukan artikel ini juga bisa merasakan hikmah dan manfaatnya.
Bisa disebut cerita ini sebagai Cerbung (Cerita Bersambung) dari perjalanan real kami, semenjak memperkenalkan nama dan produk alat musik STB kepada masyarakat luas, sampai dengan saat yang akan datang, insyaa Allah.
Imbas Krisis Moneter
Label Solichin Toip
Umumnya pendatang baru, Stb menemui banyak rintangan. Berjalan kaki berkilo-kilometer sambil menenteng dagangan yang cukup berat sampai kemalaman di jalan sehingga harus istirahat di sembarang tempat. Semua itu menjadi bagian dari cerita suka dan duka yang tak terlupakan. Namun Stb terus melakukannya dengan tanpa lelah dan selalu dipenuhi dengan doa dan harapan suatu saat pasti akan sukses.
Krisis moneter atau krisis ekonomi yang melanda dunia dan Indonesia pada tahun 1997 bukan saja membuat ratusan perusahaan besar gulung tikar, tetapi usaha kecil seperti produsen alat musik rebana pun ikut merasakan dampaknya.
Mayoritas orang tentu akan berpikir, " Lebih baik membelanjakan uang untuk membeli kebutuhan primer daripada mementingkan kebutuhan sekunder ( membeli dan bermain alat musik ). "
Maka orang tua yang hanya memiliki usaha satu-satunya ini, akhirnya benar-benar ikut kollaps. Saya, Stb yang sesungguhnya masih haus menimba ilmu di pesantren, menjadi limbung dan memutuskan untuk keluar dengan tujuan membantu ekonomi keluarga. Cita-cita mencari ilmu setinggi langit pun terpaksa harus dikubur dalam-dalam!
Label Solichin Toip
Tahun 1998, setelah kurang lebih satu tahun membantu usaha orang tua dalam membuat alat musik Rebana, Genjring, atau Terbangan, Stb memutuskan untuk membuat dan memisahkan diri dari stempel orang tua " Toip ", dengan menambahkan nama sendiri di depannya. Maka jadilah merek " Solichin Toip " sebagai brand rebana Stb.
Sebelumnya, sejak sekolah SMP 1987 an, sepulang sekolah sudah terbiasa membantu mereka dalam membuat alat musik Rebana. Sehingga tidak gamang ketika sambil membantu sekaligus belajar mandiri membuat dan memasarkannya sendiri pada tahun1992-1994. Meskipun saat itu pasarnya masih ikut menumpang kepada orang tua. Sayangnya di tahun-tahun tersebut pemakai dan penikmat alat musik Rebana belum merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Keliling Kampung
Mengharapkan pembeli Rebana dengan kebesaran nama " Toip " di rumah saja tentu akan sulit berkembang. Maka Stb memutuskan untuk berkeliling kampung, memperkenalkan nama dan produk " Solichin Toip " ke semua lapisan masyarakat, dari pintu ke pintu, dari kampung ke kampung, dari kota yang satu ke kota yang lain, khususnya wilayah Banyumas, Jawa Tengah, Cirebon, dan Kuningan, Jawa Barat.
Saat itu baru ada satu jenis alat Rebana yaitu Genjring Syrakal. Yaitu Rebana dan Terbang Jawa yang terdiri dari 4 buah Genjring (Rebana berdiameter 37-40 x 8-9 cm) dan 1 set Terbang Jawa Klasik (Kolaborasi Genjring yang dirakit menggunakan tali penjalin).
➨Lihat contoh Video Genjring Syrakal
-----o0o-----
Takdir Allah SWT kemudian menuntun Stb untuk bersilaturahmi ke guru yang sudah sekian tahun tak dikunjungi, di daerah Kuningan, Jawa Barat. Yaitu KH Uci Syarifudin dan KH Harun ar Rasyid. Tepatnya di Pondok Pesantren Salaf Raudlatut Tholibin. Alhamdulillah beliau berdua berkenan memberikan 'memo' agar Stb bisa bersilaturahmi dan membuat 'kesepakatan bisnis' dengan orang kepercayaan beliau berdua: al Ustadz Maksum
Bersambung ke Jurus Barakah Kyai Bag. II
Bersambung ke Jurus Barakah Kyai Bag. II







0 comments:
Posting Komentar